Senin, 31 Maret 2014

1147 : HUKUM GOLPUT

PERTANYAAN

Nunu Nurul Qomariyah

Assalamu'alaikum
karena sebentar lagi Pemilu
bagaimana menurut njenengan sedoyo dengan adanya Golput ?


JAWABAN

Mbah Singo Dimejo

Wa'alaikumsalaam

Hukum Golput
Assalamu’alaikum Wr Wb.
KH Azizi Hasbullah yang kami hormati, bagaimana hukum sebenarnya mengenai golput menurut syara’ pada pemilu, apakah memang benar haram? Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Hamba Allah, Bengkulu.
Telp: +6281273566xxx

Pemilihan Umum, merupakan “pesta demokrasi” untuk menentukan wakil rakyat yang di beri amanat, guna menjaga dan melestarikan kemaslahatan umat secara umum. Baik memilih legislatif atau memilih Presiden. Hal ini, disebut dengan intichabab alriqab wa ahli syura (memilih Pengawas Pemerintah dan Badan Musyawarah. Atau intichab raisul jumhur yang identik dengan nasbu al Imam (memilih Presiden yang identik dengan membentuk dengan atau mengangkat imam, dimana hukum wujudnya Dewan Suro dan Presiden adalah fardu kifayah. Artinya, kewajiban yang penting “hasilnya maksud”, dengan tanpa melihat pelakunya. Sebagaimana definisi fardu kifayah. Dalam Lubuul Ushul hal. 26:
فَرْضُ الْكِفَايَةِ مُهِمٌّ يُقْصَدُ جَزْمًا حُصُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ نَظْرٍ بِالذَّاتِ لِفَاعِلِهِ.
Artinya: Fardu kifayah adalah sesuatu yang terpenting adalah tujuannya hasil dengan pasti dengan tanpa melihat pelakunya.
Yakni, jika tujuannya sudah berhasil, maka kita tidak dituntut untuk melakukan. Sebaliknya, jika tujuan tersebut belum berhasil, maka kita semua yang mampu dan tahu, di tuntut untuk mengusahakan terwujudnya sesuatu tersebut.
A. Kronologi pemilihan umum di hukumi fardu kifayah sebagai berikut:
Sesungguhnya, Pemilihan Umum dalam rangka “pesta demokrasi” seperti di Indonesia, tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan Islam. Dan sebenarnya, sitem Pilpres langsung, Pilgub langsung, perlu ditinjau ulang melihat dampak negatifnya lebih banyak. Tapi, yang wajib adalah terbentuknya kesejahteraan masyarakat, keamanan, dan berjalannya syariat Islam dengan utuh. Karena hal itu tidak dapat terwujud tanpa adanya pemerintahan yang adil dan bijaksana, maka wujudnya pemerintahan merupakan wajib.
مَالاَيَتِمُّ اْلوَاجِبُ اِلاَ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Segala sesuatu yang sudah menjadi wajib, maka hukumnya wajib sebagaimana kewajiban tersebut”.
Sebenarnya, mewujudkan pemerintahan tersebut tidak harus dengan pemilihan umum, jika dapat direalisasikan dengan selain pemilihan umum. Akan tetapi, jika hanya dengan pemilihan umum sebagaimana yang terjadi di Indonesia tercinta ini, maka pemilihan umum menjadi fardu kifayah, karena berusaha mewujdukan cita-cita tersebut. Karenanya, memilih dalam pemilihan umum hukumnya fardu kifayah pula.
Lalu, apakah golput haram? Jika kita yakin atau punya dugaan bahwa dengan adanya kita golput, cita-cita di atas tidak terwujud maka golput haram. Jika kita yakin atau dhan (berprasangka) cita-cita tetap terlaksana walau kita golput, maka golput tidak masalah atau tidak haram. Demikian pula, jika kita yakin atau dhan golput atau memilih hasilnya sama, sama suksesnya atau sama tidak suksesnya. Jika kita ragu akan “dampak” golput kita, maka terjadi dua pendapat dikalangan ulama.
1. Golput dihukumi haram, dengan mengacu bahwa “khitob” (tuntutan) fardu kifayah, asalnya di tetapkan pada individu dan akan gugur setelah ada keyakinan atau dhan bahwa kewajiban tersebut sudah berhasil tanpa kita , maka dalam keadaan ragu masih wajib.
2. Golput tidak haram, melihat asal fardu kifayah bukan khitob untuk semua indifidu, tapi kepada sebagian kelompok yang tidak tertentu. Dan dapat menjadi kewajiban setiap indifidu, jika yakin atau dhan belum terlaksana, berarti kalau ragu belum menjadi wajib. Pendapat yang lebih benar yang pertama. Hal ini disebabkan kemungkinan arah khitob tersebut dengan melihat dua pandangan sebagai berikut:
Melihat jika tidak ada yang melakukan sama sekali, yang berdosa adalah semua individu. Maka, arah khitob fardu kifayah pada indifidu.
B. Melihat jika sudah ada orang lain yang mencukupi, kita tidak mendapat dosa. Berarti, pada dasarnya kita tidak wajib. Keterangan ini sama dengan fatwa al Syekh Zakaria al Anshari dalam kitab Ghoyatul Wusul hal 27;
وَاْلأَصَحُّ اَنَّهُ اى فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلكُلِّ لإِثْمِهِمْ بِتَرْكِهِ كَمَا فِى فَرْضِ اْلعَيْنِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى قاَتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ باللهِ وَهَذَا مَا عَلَيْهِ الجُمْهُوْرُ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِى فِى اْلأُمِّ وَيَسْقُطُ اَلْفَرْضُ بِفِعْلِ اْلبَعْضِ لأَنَّ اْلمَقْصُوْدَ كَمَا مَرَّ حُصُوْلُ اْلفِعْلِ لاَ ابْتِلاَءُ كُلِّ مُكَلَّفٍ بِهِ – اِلىَ اَنْ قاَلَ – وَقِيْلَ فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلبَعْضِ لاَ اْلكُلِّ وَرَجَّحَهُ الأَصْلُ . وِفَاقًا بِزَعْمِ اْلإِمَام الرَّازِى للإِكْتِفَاءِ بِحُصُوْلِهِ مِنَ اْلبَعْضِ وَِلأَيَةٍ وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ – اِلىَ اَنْ قَالَ – ثُمَّ مَدَارُهُ عَلَى الظَّنِّ فَعَلَى قَوْلِ اْلكُلِّ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ فَعَلَهُ أَوْ يَفْعَلُهُ سَقَطَ عَنْهُ وَمَنْ لاَ فَلاَ. وَعَلَى اْلقَوْلِ اْلبَعْضِ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ لَمْ يَفْعَلْهُ وَلاَ يَفْعَلُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ وَمَنْ لاَ فَلاَ.
Artinya: Menurut pendapat yang lebih benar bahwa “fardu kifayah”, di arahkan kepada semua individu, kerena dosanya dibebankan kepadanya jika sama-sama tidak ada yang melakukan sebagaimana fardu ain. Dengan dasar firman Allah.
وَقَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ
Ini pendapat mayoritas ulama. Dan sebagaimana nashnya imam Syafi’i dalam kitab Um hanya saja fardu akan gugur dengan sebagian yang melakukan. Karena maksudnya yang penting hasil. Bukan bebannya terhadap mukallaf. Sebagian ulama berpendapat, kewajiban tersebut diarahkan kepada sebagian, bukan setiap indifidu. Sebagaimana pendapat Imam Fatchurrozi, dikarenakan dicukupkan pada sebagian dengan berdasarkan ayat;
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ
Kemudian kisaran kewajiban tersebut pada dugaan masing-masing dengan mengikat kewajiban diarahkan kepada semua individu. Maka, barang siapa menduga bahwa orang lain telah melakukan atau dia sendiri melakukan, maka kewajiban telah gugur. Barang siapa tidak menduga dan tidak melakukan, maka tidak gugur atau tetap wajib. Jika mengikuti atas kewajiban sebagian, maka barang siapa menduga tidak ada orang lain yang melakukan dan ia tidak melakukan maka dia menjadi wajib jika tidak maka tidak wajib. Ghoyatul wushul hal 27.

http://misykat.lirboyo.net/hukum-golput/

LINK ASAL :
 https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1147-hukum-golput/746446055380135

Rabu, 20 November 2013

1146 : DO'A PADA HARI ASYURO'

oleh : Siroj Munir

Sebagian ulama’ ahli tasawuf meriwayatkan, bahwa barang siapa membaca do’a berikut ini pada hari asyuro’, maka orang tersebut tidak akan meninggal pada tahun itu, sedangkan orang yang sudah sampai ajalnya, maka orang tersebut tidak membacanya (karena lupa semisal). Dan do’a ini sudah dibuktikan oleh para ulama’ (mujarab).

Berikut do’anya:

سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ اللَّهُ أَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْ اللَّهِ إلَّا إلَيْهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ اللَّهُ أَكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ، وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا


SUBHANALLOH MIL’AL MIZAN, WA MUNTAHAL ILMI WA MABLAGOR RIDHO WA ‘ADADAN NI’AMI WA ZINATAL ‘ARSY. WAL HAMDULILLAH MIL’AL MIZAN, WA MUNTAHAL ILMI WA MABLAGOR RIDHO WA ‘ADADAN NI’AMI WA ZINATAL ‘ARSY. LAA ILAAHA ILLALLAH MIL’AL MIZAN, WA MUNTAHAL ILMI WA MABLAGOR RIDHO WA ‘ADADAN NI’AMI WA ZINATAL ‘ARSY. ALLAHU AKBAR MIL’AL MIZAN, WA MUNTAHAL ILMI WA MABLAGOR RIDHO WA ‘ADADAN NI’AMI WA ZINATAL ‘ARSY. LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH MIL’AL MIZAN, WA MUNTAHAL ILMI WA MABLAGOR RIDHO WA ‘ADADAN NI’AMI WA ZINATAL ‘ARSY. LA MALJA’A WA LA MANJA MINALLOH ILLA ILAIH. SUBHANALLOH ‘ADADASY SYAF’I WAL WITRI WA ‘ADADA KALIMATILLAHIT TAMMATI. AL HAMDULILLAH ‘ADADASY SYAF’I WAL WITRI WA ‘ADADA KALIMATILLAHIT TAMMATI. LAA ILAAHA ILLALLAH ‘ADADASY SYAF’I WAL WITRI WA ‘ADADA KALIMATILLAHIT TAMMATI. ALLAHU AKBAR ‘ADADASY SYAF’I WAL WITRI WA ‘ADADA KALIMATILLAHIT TAMMATI. LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH ‘ADADASY SYAF’I WAL WITRI WA ‘ADADA KALIMATILLAHIT TAMMATI. HASBUNALLOH WANI'MAL WAKIL NI'MAL MAULA WANI'MAN NASHIR WA SHOLLALLAHOHU 'ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA 'ALA ALIHI WA SHOHBIHI WA SALLAMA TASLIMAN KATSIRO.

(Keterangan dari kitab; Hasyiyah Al-Jamal ‘Ala Syarhil Manhaj, Juz: 2 Hal: 348)
 

link dokumen :

https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1146-doa-pada-hari-asyuro/679704268720981

1145 : SEJARAH PUASA ASYURA

oleh : Siroj Munir

Sejarah Puasa Asyura Puasa Asyura (عاشوراء)

adalah puasa sunat yang dikerjakan oleh kaum muslimin setiap tanggal 10 bulan Muharrom. Ditinjau dari sejarahnya, ternyata puasa asyuro’ adalah termasuk puasa yang sudah disyari’atkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad.

Hal ini bisa kita ketahui dengan meninjau beberapa hadits yang menjelaskan puasa asyuro’. Imam Bukhori meriwayatkan;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah sampai dan tinggal di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari 'Asyura' lalu Beliau bertanya: "Kenapa kalian mengerjakan ini?" Mereka menjawab: "Ini adalah hari kemenangan, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Isra'il dari musuh mereka lalu Nabi Musa Alaihissalam menjadikannya sebagai hari berpuasa". Maka Beliau bersabda: "Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa". Lalu Beliau memerintahkan untuk berpuasa”. (Shahih Bukhari, No.2004). Imam Muslim meriwayatkan;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟» فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa di hari 'Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka: "Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?" mereka menjawab, "Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir'aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.

" kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan kaum puasa di hari itu.”. (Shahih Muslim, No.1130). Dalam redaksi lain Imam Muslim meriwayatkan;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللهُ فِيهِ مُوسَى، وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ

“Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura`. Lalu mereka pun ditanya (alasan apa mereka berpuasa di hari itu).

Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Isra`il atas Fir'aun. Karena itu, kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Sesungguhnya kami lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian." lalu beliau perintahkan agar kaum muslimin puasa pada hari 'Asyura`. (Shahih Muslim, no. 1130) Dari hadits-hadits diatas dapat diketahui bahwa puasa asyuro’ pada mulanya adalah puasa yang dikerjakan oleh Nabi Musa alaihis salam sebagai ungkapan rasa syukur atas terselamatkannya Nabi Musa dan bani israil dari raja fir’aun dan bala tentaranya yang mengejar-ngejar mereka, dan akhirnya bala tentara fir’aun ditenggelamkan oleh Allah. Puasa asyuro’ masih terus dikerjakan oleh orang-orang yahudi sampai pada masa Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, dan akhirnya nabi mengetahui hal tersebut. Kemudian Nabi Muhammad memerintahkan melakukan puasa asyuro’ sebab Nabi Musa adalah nabinya kaum muslimin, dan kaum musliminlah yang sebenarnya masih mengikuti ajaran tauhid Nabi Musa, tidak seperti bangsa isra’il yang telah menyelewengkan ajaran nabi musa dan juga merubah isi kitab taurot.

Karena itulah Nabi bersabda; “Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa". Sebenarnya puasa ini telah dikerjakan Nabi semenjak masih tinggal dimekah, sebab puasa ini telah dikerjakan oleh orang Quraisy. Namun baru setelah nabi hijrah ke Madinah beliau memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakan puasa asyuro’, sebagaimana dikisahkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha;

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Orang-orang Quraisy pada masa Jahiliyah melaksanakan puasa hari 'Asyura' dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakannya. Ketika Beliau sudah tinggal di Madinah Beliau tetap melaksanakannya dan memerintahkan orang-orang untuk melaksanakannya pula. Setelah diwajibklan puasa Ramadhan Beliau meninggalkannya. Maka siapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau silakan meninggalkannya”. (Shahih Bukhari, no.2002). Hadits diatas kita juga memberikan pengetahuan bagi kita bahwa puasa asyuro’ disyari’atkan sebelum diwajibkannya puasa wajib pada bulan romadhon bagi kaum muslimin. Semoga sekelumit penjelasan ini dapat bermanfaat..


link dokumen :
https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1145-sejarah-puasa-asyura/679703505387724

1144 : BATASAN AURAT YANG BOLEH DILIHAT OLEH SESAMA WANITA

PERTANYAAN


Narti Khoir

السلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Pertanyaan titipan,batasan aurat yg boleh dilihat oleh sesama wanita? Dan bila di situasi tertentu kita berkumpul dg sesama wanita yg memperlihatkan auratnya,bolehkah

JAWABAN

Kakek Jhosy

Wa'alaikum salam wr wb

Para ahli fiqih berpendapat bahwa aurat wanita dengan sesama perempuan itu sama dengan aurat laki-laki yaitu antara pusar sampai lutut. Oleh karena itu wanita boleh memandang seluruh tubuh wanita lain kecuali antara pusar dan lutu. Hal itu disebabkan karena sesama jenis dan tidak umumnya tidak ada syahwat. Akan tetapi haram hukumnya apabila melihat disertai syahwat dan takut terjadi fitnah .

Referensiجاء في الموسوعة الفقهيةذهب الفقهاء إلى أن عورة المرأة بالنسبة للمرأة هي كعورة الرجل إلى الرجل، أي ما بين السرة والركبة، ولذا يجوز لها النظر إلى جميع بدنها عدا ما بين هذين العضوين ، وذلك لوجود المجانسة وانعدام الشهوة غالبا ، ولكن يحرم ذلك مع الشهوة وخوف الفتنة. انتهى

Referensi Lainya . . .بدائع الصنائع في الفقه الحنفي 5/124وَأَمَّا الثَّالِثُ وهو بَيَانُ ما يَحِلُّ من ذلك وما يَحْرُمُ لِلْمَرْأَةِ من الْمَرْأَةِ فَكُلُّ ما يَحِلُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَنْظُرَ إلَيْهِ من الرَّجُلِ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَنْظُرَ إلَيْهِ من الْمَرْأَةِ، وَكُلُّ ما لَا يَحِلُّ له لَا يَحِلُّ لها فَتَنْظُرُ الْمَرْأَةُ من الْمَرْأَةِ إلَى سَائِرِ جَسَدِهَا إلَّا ما بين السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ، وَلَا يَجُوزُ لها أَنْ تَنْظُرَ ما بين سُرَّتِهَا إلَى الرُّكْبَةِ إلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ بِأَنْ كانت قَابِلَةً فَلَا بَأْسَ لها أَنْ تَنْظُرَ إلَى الْفَرْجِ عِنْدَ الْوِلَادَةِ، لَكِنَّ الثَّابِتَ بِالضَّرُورَةِ لَا يَعْدُو مَوْضِعَ الضَّرُورَةِ لِأَنَّ عِلَّةَ ثُبُوتِهَا الضَّرُورَةُ وَالْحُكْمُ لَا يَزِيدُ على قَدْرِ الْعِلَّةِ هذا الذي ذَكَرْنَا حُكْمُ النَّظَرِ وَالْمَسِّ

Referensiشرح النووي على صحيح مسلم 4/30وَأَمَّا أَحْكَام الْبَاب فَفِيهِ تَحْرِيم نَظَر الرَّجُل إِلَى عَوْرَة الرَّجُل وَالْمَرْأَة إِلَى عَوْرَة الْمَرْأَة, وَهَذَا لَا خِلَاف فِيهِ، وَأَمَّا ضَبْط الْعَوْرَة فِي حَقّ الْأَجَانِب، فَعَوْرَة الرَّجُل مَعَ الرَّجُل مَا بَيْن السُّرَّة وَالرُّكْبَة, وَكَذَلِكَ الْمَرْأَة مَعَ الْمَرْأَة, وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ فِي جَمِيع هَذِهِ الْمَسَائِل مِنْ تَحْرِيم النَّظَر هُوَ فِيمَا إِذَا لَمْ تَكُنْ حَاجَة, أَمَّا إِذَا كَانَتْ حَاجَة شَرْعِيَّة فَيَجُوز النَّظَر فِي حَالَة الْبَيْع وَالشِّرَاء وَالتَّطَبُّب وَالشَّهَادَة وَنَحْو ذَلِكَ وَلَكِنْ يَحْرُم النَّظَر فِي هَذِهِ الْحَال بِشَهْوَةٍ، فَإِنَّ الْحَاجَة تُبِيح النَّظَر لِلْحَاجَةِ إِلَيْهِ, وَأَمَّا الشَّهْوَة فَلَا حَاجَة إِلَيْهَا

Wallohu A'lam Bis shawab

link dokumen :

https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1144-batasan-aurat-yang-boleh-dilihat-oleh-sesama-wanita/678301688861239

1143 : 12 AMALAN PADA HARI ASYURO'

oleh : Siroj Munir

12 AMALAN PADA HARI ASYURO'

1. Sholat (yang paling utama adalah mengerjakan sholat tasbih)

2. Puasa

3. Sedekah

4. Memberikan kelapangan kepada keluarga

5. Mandi

6. Bertamu kepada orang 'alim yang sholih

7. Menjenguk orang sakit

8. Mengusap kepala anak yatim

9. Memakai celak

10. Memotong kuku

11. Membaca surat ikhlas, sebanyak 1000 kali

12. Silaturrahim.

>>> Keterangan dari kitab NIHAYATUZ ZEN, Hal: 196

وَنقل عَن بعض الأفاضل أَن الْأَعْمَال فِي يَوْم عَاشُورَاء اثْنَا عشر عملا الصَّلَاة وَالْأولَى أَن تكون صَلَاة التَّسْبِيح وَالصَّوْم وَالصَّدَََقَة والتوسعة على الْعِيَال والاغتسال وزيارة الْعَالم الصَّالح وعيادة الْمَرِيض وَمسح رَأس الْيَتِيم والاكتحال وتقليم الْأَظْفَار وَقِرَاءَة سُورَة الْإِخْلَاص ألف مرّة وصلَة الرَّحِم


link dokumen :



https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1143-12-amalan-pada-hari-asyuro/677284578962950

1142 : IBAROH KEBOLEHAN MELAKUKAN SUJUD SYAHWI SETELAH SALAM

 PERTANYAAN 

Naira Hasyim

assalamu alaikum barangkali poro alim disini punya ibarot tentang kebolehan melakukan sujud sahwi stelah salam .Trimakasih


JAWABAN 

Brojol Gemblung

 ﺳﺒﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ - ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﻜﺤﻼﻧﻲ - ﺝ - ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٠٦ :

ﻭﻟﻤﺎ ﻭﺭﺩﺕ ﻫﻜﺬﺍ ﺍﺧﺘﻠﻔﺖ ﺁﺭﺍﺀ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻻﺧﺬ ﺑﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ ﺩﺍﻭﺩ: ﺗﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﻣﻮﺍﺿﻌﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﺑﻪ، ﻭﻻ ﻳﻘﺎﺱ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﻣﺜﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺧﺎﺻﺔ، ﻭﺧﺎﻟﻒ ﻓﻴﻤﺎ ﺳﻮﺍﻫﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: ﻳﺴﺠﺪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻟﻜﻞ ﺳﻬﻮ.

ﻭﻗﺎﻝ ﺁﺧﺮﻭﻥ: ﻫﻮ ﻣﺨﻴﺮ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺳﻬﻮ: ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺳﺠﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﻨﻘﺺ.

ﻭﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ: ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﺳﺠﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻨﻘﺼﺎﻥ ﺳﺠﺪ ﻗﺒﻠﻪ.

ﻭﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﻬﺎﺩﻭﻳﺔ، ﻭﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ: ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺴﻬﻮ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ، ﻭﺗﺄﻭﻟﻮﺍ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻗﺒﻠﻪ، ﻭﺳﺘﺄﺗﻲ ﺃﺩﻟﺘﻬﻢ.

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ: ﺍﻷﺻﻞ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ، ﻭﺭﺩ ﻣﺎ ﺧﺎﻟﻔﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺑﺎﺩﻋﺎﺋﻪ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ.

》》》http://shiaonlinelibrary.com/.../الصفحة_206


Naira Hasyim

 Brojol Gemblung syukron kang ! Namun barangkali trdapat ibarot yang lebih shorih dari ashab syafi'iyah dalam masalah terkait (sujud sahwi di lakukan stelah salam] , monggo kang ! Sy masih stia menunggu jawaban disini

Brojol Gemblung

 ﺍﻟﺠﺎﻣﻌﺔ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﺑﺎﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻤﻨﻮﺭﺓ - ﻣﺤﺘﻮﻯ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺘﻨﺒﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ - 41 :

ﻭﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺴﻬﻮ ﺳﻨﺔ ﻓﺎﻥ ﺗﺮﻙ ﺟﺎﺯ ﻭﻣﺤﻠﻪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﺁﺧﺮ: ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻬﻮ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻓﻤﺤﻠﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺍﻷﻭﻝ ﻫﻮ ﺍﻷﺻﺢ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺠﺪ ﺣﺘﻰ ﺳﻠﻢ ﻭﻟﻢ ﻳﻄﻞ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺳﺠﺪ ﻭﺍﻥ ﻃﺎﻝ ﻓﻔﻴﻪ ﻗﻮﻻﻥ: ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺴﺠﺪ.

》》》http://iucontent.iu.edu.sa/.../41.html


link dokumen :

https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1142-ibaroh-kebolehan-melakukan-sujud-syahwi-setelah-salam/677283725629702

1141 : HUKUM ISTRI MENOLAK AJAKAN NJIMAK DENGAN ALASAN DZAKAR TERLALU BESAR

PERTANYAAN 


Alvaro Zulfadhli Aqila

Assalamu'alaikumTrimakasih uda d konfirm.Anggota baru pngn tanya. Benarkah istri boleh menolak ajakan jimak dr suami dengan alasan penis nya terlalu besar..?




JAWABAN


Kakek Jhosy 

Wa'alaikum salam wr wb

Boleh Istri menolak ajakan suami jika alat penisnya terlalu besar . . . .

Referensiإعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ويحصل النشوز (بمنع) الزوجة الزوو (من تمتع) ولو بنحو لمس أو بموضع عينه (لا) إن منعته عنه (لعذر) ككبر آلته بحيث لا تحتمله ومرض بها يضر معه الوطئ وقرح في فرجها وكنحو حيض


Ibnu Hasyim Alwi

 Sepakat atas jawaban Kakek Jhosy---jika BESARNYA RODALNYA SUAMI Sekiranya akan menyakitkan/membayakan bagi istri maka istri boleh menolak ajakan suami untuk bercinta karna hal itu termasuk udzur(bagi istri) yang di benarkan menurut Syar'i( وتسقط) مؤنها ( بنشوز ) أي خروج عن طاعة الزوج ولو في بعض اليوم ، وإن لم تأثم كصغيرة ومجنونة ، والنشوز ( كمنع تمتع ) ولو بلمس ( إلا لعذر كعبالة ) فيه بفتح العين وهي كبر الذكر بحيث لا تحتمله الزوجة ( ومرض ) بها ( يضر معه الوطء ) وحيض ونفاس فلا تسقط المؤن ؛ لأنه إما عذر دائم أو يطرأ أو يزول وهي معذورة فيهHasyiyatul Jamal : 19/388


link dokumen :

https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1141-hukum-istri-menolak-ajakan-njimak-dengan-alasan-dzakar-terlalu-besar/677279865630088